3 Tahun Terakhir, YouTube Klaim Telah Membayarkan Ratusan Trilun Rupiah pada Kreator

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - CEO YouTube Susan Wojcicki menyatakan pihaknya telah membayar sekitar Rp 422,9 triliun kepada kreator , artis dan organisasi media selama tiga tahun terakhir ini.

Dikutip dari The Verge, Rabu (27/1/2021), Wojcicki dalam surat kepada pembuat konten atau YouTubers, membahas pertumbuhan YouTube.

baca juga: Apple Sebut Pengguna iOS14 Kini Capai 86 Persen dari Total Pengguna iPhone

Jumlah saluran baru yang bergabung dengan Program Mitra YouTube, yang memungkinkan pembuat konten memperoleh pendapatan iklan, tumbuh lebih dari dua kali lipat pada 2020.

Menurut laporan Oxford Economics, YouTube juga menyumbang sekitar 16 miliar dolar AS ke PDB AS pada 2019, mendukung setara dengan 345.000 pekerjaan purnawaktu.

baca juga: Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi, Hasto: Internal Partai Syok

Surat itu juga membahas soal pekerjaan yang harus dilakukan tim YouTube, terutama soal transparansi soal biaya periklanan.

Wojcicki mencatat bahwa pada "skala yang kami operasikan, sulit bagi pembuat konten untuk mengikuti perubahan Pedoman Komunitas."

baca juga: Identifikasi Pemotor Penerobos Kawasan Istana Presiden, Polisi: Mereka Akan Diperiksa Besok

Surat Wojcicki menyatakan bahwa YouTube ingin menjadi lebih baik dalam membicarakan perubahan untuk menghindari teguran kepada saluran.

Sebab, melansir Antara, setelah tiga kali teguran dalam jangka waktu 90 hari, saluran akan dihentikan.

baca juga: Jadi Tersangka KPK Nurdin Abdullah Bantah Terima Suap

Salah satu contoh yang muncul setelah pemilihan presiden AS 2020 adalah keputusan YouTube untuk melarang video apa pun yang memicu kesalahan informasi tentang pemilu.

Kebijakan baru mulai berlaku pada bulan Desember, tetapi YouTube memberikan masa tenggang bagi kreator untuk memastikan tidak ada videonya yang melanggar kebijakan baru tersebut.

YouTube juga menghadapi tekanan yang meningkat untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam memoderasi platform dan mencegah penyebaran informasi yang salah. YouTube sekarang mengalihkan fokusnya ke misinformasi vaksinasi.

"Kami selalu berupaya untuk mencapai keseimbangan yang tepat antara keterbukaan dan tanggung jawab karena kami memenuhi pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah di seluruh dunia," tulisnya.

Sumber: Antara/Suara.com

Editor: Eko Fajri