Mobil Listrik Mau Beroperasi di RI? Hal Ini Harus Ada

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Mobil listrik di Indonesia masih dipengaruhi banyak faktor dalam perkembangannya. Beberapa faktor tersebut diantaranya terkait pasokan listrik, pengolahan limbah baterai , hingga ketersediaan charge station untuk keberlangsungan mobil listrik.

Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hari Setiapraja mengatakan, sumber kelistrikan untuk mobil listrik adalah hal terpenting dalam perkembangan mobil listrik.

baca juga: Polemik Kerudung di SMK, MUI Sumbar: Seperti Diframing, Telusuri Masalah Ini dengan Benar

"Karena kendaraan listrik bergantung pada daya listrik yang mudah diakses, maka suplai lisrik sangat menentukan," kata Hari dalam diskusi virtual Industri Otomotif bertema "Peluang dan Tantangan Mobil Berlistrik di Indonesia" ditulis Jumat (27/11/2020).

Hari meminta pemerintah benar-benar menyiapkan ketersediaan charging station untuk kelangsungan industri mobil listrik nantinya.

baca juga: Simpan Sabu di Dapur, Suami-Istri di Tanah Datar Ini Dibekuk Polisi

"Salah satu yang membuat keraguan produsen adalah keberadaan stasiun charging. Saat ini di Indonesia masih terbatas. Ini yang perlu dibangun pemerintah," ucapnya.

Hambatan lainnya adalah teknologi baterai dengan densitas power tinggi, fast charging dan tahan lama.

baca juga: MK Putuskan Pilkada Kota Solok Tidak Masuk PHPU, KPU Tetapkan Paslon Terpilih

Berikutnya adalah regulasi teknis dan keuangan untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik termasuk stimulus yang diberikan bagi produsen dan konsumen.

Hal lain adalah pengolahan limbah baterai dan sistem recycle. Selain itu, tersedianya industri komponen di dalam negeri dengan meningkatkan lokal konten.

baca juga: Sule ke Nathalie Holscher: Hati-hati, Jangan Sampai Kamu Benci Aku

Sementara itu, Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Riyanto mengatakan, kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) akan lebih diminati konsumen Indonesia sebelum memasuki kendaraan listrik murni.

Berdasarkan uji coba yang dilakukan peneliti di Universitas Indonesia di kawasan perkotaan, emisi kendaraan PHEV hampir sama seperti mobil listrik murni.

"Selama simulasi, BBM-nya terpakai kecil, karena hanya memakai untuk jarak-jarak pendek di dalam kota. Jadi semuanya digerakkan oleh baterai . Plug in hybrid ini mirip dengan full baterai karena kalau di dalam kota kan pembakarnya tidak berfungsi," ungkap Riyanto.

Editor: Eko Fajri