Peneliti AS Kembangkan Jaringan Sensor Keringat Lacak Perubahan Fisiologis

Ilustrasi
Ilustrasi (pixabay)

KLIKPOSITIF - Seorang peneliti di University of California, Berkeley, telah mengembangkan keringat yang dipakai sebagai sensor jaringan yang dapat mengukur fluktuasi dengan cepat dalam elektrolit dan metabolit serta penumpukan konsentrasi logam berat di keringat. Dengan menggabungkan bahan yang inovatif, teknologi sensor dan sirkuit terpadu, Ali Javey, seorang ilmuwan material dan profesor teknik listrik dan ilmu komputer membangun sensor prototipe keringat pada plastik tipis dan menanamnya dalam ikat kepala atau gelang, sehingga bisa memantau konsentrasi tingkat penanda metabolik secara real-time.

Dilansir dari laman xinhua, sensor kimia dilapisi elektroda yang mengukur tegangan atau arus sebagai proxy untuk konsentrasi elektrolit. Elektroda dirancang secara berbeda berdasarkan jenis bahan kimia yang digunakan untuk mendeteksinya. Bagian Sirkuit terpadu dari perangkat yang dapat dikenakan, mengubah tegangan yang diukur untuk membaca konsentrasi kimia tertentu. Karena sinyal output merupakan suhu -sensitif, dan chip diperlukan untuk terus mengkalibrasi sensor dalam memastikan pencatatan rekor secara akurat sebagai perubahan suhu keringat.

baca juga: Peniliti Ungkap Partikel Covid-19 Bertahan dalam Lift Selama 30 Menit

Di laboratoriumnya, Javey mengembangkan jaringan sensor ringan untuk melacak setengah lusin keringat sebagai penanda kimia sebagai relawan yang bekerja keras. Ketika mereka gusar, relawan dapat memantau peningkatan atau penurunan pada elektrolit mereka, metabolit dan suhu kulit pada ponsel pintar atau perangkat mobile lainnya melalui Bluetooth. Hal itu dapat ditransmisikan secara nirkabel ke situs lain untuk analisis yang lebih rinci.

Sementara proyek ini secara bersamaan dapat memantau perubahan natrium, kalium, kalsium, glukosa, laktat, dan tingkat logam berat, antara lain dengan menyempurnakan proses fabrikasi sensor untuk membuatnya lebih komersial secara praktis untuk pelatihan kebugaran, atletik, diagnosa kesehatan dan studi populasi skala besar. Dia berkolaborasi dengan ahli fisiologi olahraga dan peneliti medis untuk menentukan bagaimana perubahan secara andal yang diukur oleh sensor "peta" dengan intensitas latihan dan langkah-langkah status kesehatan tertentu.

baca juga: PUBG Umumkan Kolaborasi Resmi dengan BLACKPINK

"Sekitar setengah dari populasi orang dewasa California merupakan pra-diabetes. Ini adalah kondisi yang mengkhawatirkan yang mengarah ke diabetes jika kebiasaan makan dan hidup Anda tidak berubah. Tapi kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka memiliki kondisi tersebut Dan banyak dari kita benci pergi ke dokter karena harus memeriksa darah dalam menentukan kadar glukosa," ungkap Javey.

Penelitian awal menunjukkan bahwa keringat mungkin menjadi reservoir yang bisa diandalkan untuk menarik glukosa secar bertahap. Sensor keringat bisa memberikan non-invasif dan tes sederhana untuk pertama kali. Selain itu, sensor berpotensi digunakan untuk mendeteksi terjadinya kelelahan dan dehidrasi pada atlet selama kegiatan latihan berkepanjangan.

baca juga: Peneliti Sebut Penggunaan Nuklir Sebagai Sumber Energi di Indonesia Sangat Beresiko, Ini Alasannya

Penulis: Fitria Marlina