Ilmuwan Jepang Tanam Obat pada Telur Ayam

"Hal itu sebagai untuk mengurangi biaya pengobatan."
Periset Jepang memiliki rekayasa genetika ayam yang telurnya mengandung obat-obatan (pixabay)

KLIKPOSITIF - Periset Jepang memiliki rekayasa genetika ayam yang telurnya mengandung obat-obatan, yang mampu digunakan melawan penyakit serius termasuk kanker. Hal itu sebagai untuk mengurangi biaya pengobatan.

Dilansir dari laman Arabnews, para ilmuwan dapat dengan aman memproduksi "beta interferon," sejenis protein yang digunakan untuk mengobati penyakit termasuk multiple sclerosis dan hepatitis, dengan membesarkan ayam.

Harga obat itu saat ini mencapai 100.000 yen ($ 888) untuk beberapa mikrogram - bisa turun secara signifikan.

"Periset di Institut Nasional Ilmu dan Teknologi Industri Tingkat Tinggi (AIST) di wilayah Kansai memulai proses dengan mengenalkan gen yang menghasilkan interferon-beta ke dalam sel yang merupakan prekursor sperma ayam," tulis sebuah surat kabar berbahasa Inggris Yomiuri Shimbun.

Periset di Institut Nasional Ilmu dan Teknologi Industri Tingka kemudian menggunakan sel-sel ini untuk membuahi sel telur dan menciptakan ayam betina yang mewarisi gen tersebut, yang berarti burung-burung tersebut mampu bertelur yang mengandung zat perusak penyakit.

"Para ilmuwan sekarang memiliki tiga ekor ayam yang telurnya mengandung obat tersebut, dan burung-burung tersebut bertelur hampir setiap hari," kata laporan tersebut.

"Para periset berencana menjual obat tersebut ke perusahaan farmasi, mengurangi separuh harganya, sehingga perusahaan dapat menggunakannya terlebih dahulu sebagai bahan penelitian," kata surat kabar tersebut.

Konsumen mungkin harus menunggu beberapa saat, karena Jepang memiliki peraturan ketat mengenai pengenalan produk farmasi baru atau asing, dengan proses penyaringan yang rutin memakan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan.

"Namun tim berharap bahwa terobosan teknologi pada akhirnya akan membantu menurunkan biaya obat hingga 10 persen dari harga saat ini," lapor surat kabar itu.

Sementara itu, pejabat di institut tersebut tidak ... Baca halaman selanjutnya