Sensor Wearable Mampu Analisa Penyakit Melalui Keringat

"Yang bisa dipakai untuk mendiagnosa cystic fibrosis, diabetes dan penyakit lainnya"
Ilustrasi (pixabay)

KLIKPOSITIF - Peneliti AS mengembangkan gelang-jenis sensor keringat yang bisa dipakai untuk mendiagnosa cystic fibrosis, diabetes dan penyakit lainnya. Sensor mengumpulkan keringat, mengukur konstituen molekul dan kemudian secara elektronik mengirimkan hasil untuk analisis dan diagnosa melalui smartphone. Hal itu disampaikan oleh sebuah studi yang dipimpin oleh peneliti di Stanford University, bekerja sama dengan University of California, Berkeley.

Tidak seperti kolektor keringat sebelumnya, perangkat baru tidak memerlukan pasien untuk duduk diam dalam waktu yang lama untuk mengumpulkan keringat dari mereka. "Ini adalah langkah besar ke depan," ungkap co-penulis Carlos Milla, seorang profesor pediatri di Stanford University.

Dilansir dari laman xinhua, perangkat yang dapat dikenakan adalah sistem dua-bagian dari sensor fleksibel dan mikroprosesor yang menempel pada kulit, merangsang kelenjar keringat dan kemudian mendeteksi keberadaan molekul-molekul yang berbeda dan ion berdasarkan sinyal-sinyal listrik mereka. Tingkat ion klorida yang tinggi merupakan indikator fibrosis kistik sementara kadar glukosa darah yang tinggi dapat mengindikasikan diabetes. Hal itu merupakan hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceeding US National Academy of Sciences.

Metode konvensional itu digunakan untuk mendiagnosa cystic fibrosis, yakni penyakit genetik yang menyebabkan lendir terbangun di paru-paru, pankreas dan organ lainnya sehingga mengharuskan pasien mengunjungi pusat khusus dan duduk selama 30 menit, sementara elektroda merangsang kelenjar keringat di kulit mereka untuk memberikan keringat.

Sebagai perbandingan, sensor keringat bisa dipakai untuk merangsang kulit dalam memproduksi jumlah menit keringat, cepat mengevaluasi isi dan balok data dengan cara transfer dari ponsel ke server yang menganalisa hasil, dan tes ini terjadi sekaligus dan secara real time," kata ... Baca halaman selanjutnya