Vitamin D Tidak Membantu Mencegah Penyakit Jantung

"Uji klinis acak dari suplemen vitamin D belum menemukan efek karena penggunaan dosis vitamin D yang terlalu rendah"
Ilustrasi (pixabay)

KLIKPOSITIF - Konsumsi vitamin D dengan dosis tinggi yang diberikan setiap bulan tidak mencegah penyakit kardiovaskular. Orang dengan status vitamin D rendah sebelumnya telah dikaitkan dengan peningkatan penyakit kardiovaskular, tapi sejauh ini, uji klinis acak dari suplemen vitamin D belum menemukan efek karena penggunaan dosis vitamin D yang terlalu rendah.

Studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal AS JAMA Kardiologi mengungkapkan lebih dari 5.100 orang dewasa dengan usia rata-rata 66 tahun, 25 % di antaranya kekurangan vitamin D. Dalam hal ini, peserta dibagi secara acak menjadi dua kelompok dan diberikan vitamin D3 atau plasebo dengan dosis awal 5,0 mg diikuti dengan dosis bulanan 2,5 mg. Setelah 3,3 tahun masa tindak lanjut, penyakit kardiovaskular terjadi di 303 peserta (11,8 %), pada kelompok vitamin D dan 293 peserta (11,5 %) pada kelompok plasebo.

Hasil yang sama terlihat untuk peserta dengan kekurangan vitamin D pada awal penelitian dan hasil lainnya seperti serangan jantung, gagal jantung, hipertensi, dan stroke. "Hasil ini tidak mendukung penggunaan vitamin D dengan dosis tinggi dalam pencegahan penyakit kardiovaskular. Sedangkan untuk efek dari dosis harian atau mingguan memerlukan studi lebih lanjut," ungkap Robert Scragg dari University of Auckland, Selandia Baru.

Dilansir dari laman xinhua, Tim Chico, pembaca dalam pengobatan kardiovaskular dan konsultan ahli jantung dari University of Sheffield, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan studi ini menambah sejumlah besar orang lain yang menemukan efek berbahaya atau bahkan suplemen vitamin pada berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung dan kanker.

"Saya melihat banyak pasien yang mengambil suplemen vitamin dengan harapan bahwa ini akan mengurangi risiko penyakit, dan sayangnya bukti menunjukkan bahwa mereka membuang-buang waktu dan uang," kata Chico.

Profesor Adrian Martineau dari Queen Mary University of London mengatakan ... Baca halaman selanjutnya